Mengolah Asap Menjadi Aksi Edukatif: Inovasi Mujepa Siswa SMPN 3 Paron Ngawi

Daerah, Pendidikan456 Views
banner 468x60
Spread the love

Ngawi||Metrosoerya.com, Jawa Timur — Persoalan lingkungan kerap hadir di sekitar kehidupan masyarakat, namun tidak selalu direspons dengan langkah solutif dan berkelanjutan. Di SMP Negeri 3 Paron, Kabupaten Ngawi, kebiasaan pembakaran jerami pascapanen yang selama ini menimbulkan polusi asap justru menjadi pemantik lahirnya sebuah inovasi pembelajaran ramah lingkungan bernama Mujepa (Mulsa Jerami Padi).

Inovasi ini diprakarsai oleh Riana Fathonatul Qoidah, M.Pd, guru SMP Negeri 3 Paron, yang melihat langsung dampak pembakaran jerami terhadap kenyamanan belajar dan kualitas lingkungan sekolah.

banner 336x280

Asap dan bau menyengat yang kerap masuk ke area sekolah mendorong lahirnya gagasan untuk menjadikan persoalan tersebut sebagai media pembelajaran kontekstual berbasis aksi nyata.
Melalui pendekatan pembelajaran berbasis proyek, siswa diajak mengkaji dampak pembakaran jerami sekaligus mengeksplorasi potensi alternatif pemanfaatannya. Dari proses tersebut, jerami padi diolah dan dimanfaatkan sebagai mulsa organik yang memiliki nilai ekologis serta ekonomis.
Pembelajaran Kontekstual Berbasis Lingkungan Program Mujepa dirancang sebagai sarana pembelajaran terpadu yang menghubungkan teori dengan praktik di lapangan.

Siswa tidak hanya mempelajari konsep lingkungan secara teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam proses identifikasi masalah, analisis dampak, hingga perumusan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
Penggunaan jerami sebagai mulsa organik memberikan manfaat ekologis yang nyata, antara lain menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma, serta memperbaiki struktur dan kesuburan tanah secara alami. Proses pembelajaran ini sekaligus menanamkan nilai kepedulian lingkungan, tanggung jawab sosial, dan kemampuan berpikir kritis pada peserta didik.

Media Edukasi dan Transformasi Sosial
Lebih jauh, Mujepa tidak hanya berdampak di lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi media edukasi bagi masyarakat sekitar.

Melalui kegiatan ini, sekolah berupaya mengubah pola pikir bahwa jerami merupakan limbah tak bernilai. Sebaliknya, jerami diposisikan sebagai sumber daya yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Praktik pembakaran jerami diketahui dapat merusak mikroorganisme tanah serta mempercepat degradasi kesuburan lahan.

Sebaliknya, pemanfaatan jerami sebagai mulsa justru mendukung pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Landasan Ilmiah dan Keberlanjutan
Secara ilmiah, mulsa jerami mampu menekan penguapan air tanah hingga 30–50 persen, sehingga efektif menjaga kelembapan lahan, khususnya pada musim kemarau. Selain itu, jerami yang terurai secara alami akan mengembalikan unsur hara penting seperti Kalium (K) dan Silika (Si) yang berperan dalam memperkuat struktur tanaman padi.

Lapisan jerami juga menciptakan habitat yang mendukung kehidupan mikroorganisme dan cacing tanah, yang berkontribusi pada perbaikan struktur tanah. Hal ini berbanding terbalik dengan praktik pembakaran jerami yang justru merusak lapisan tanah akibat panas tinggi.

“Melalui Mujepa, siswa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar wacana, melainkan tindakan nyata yang berdampak jangka panjang. Limbah pertanian dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus solusi,” ujar Riana.

Komitmen Pendidikan Berkelanjutan
SMP Negeri 3 Paron terus berkomitmen mengembangkan model pembelajaran inovatif yang mengintegrasikan pendidikan karakter, literasi lingkungan, dan kepedulian sosial. Melalui Mujepa, sekolah menegaskan peran pendidikan sebagai agen perubahan dalam membangun kesadaran ekologis sejak usia dini.
(AS)

banner 336x280