Magetan||Metrosowrya.com.GemaTipikor — Pencak silat kembali menegaskan perannya sebagai jembatan diplomasi budaya lintas negara. Christian, seorang warga negara Denmark, melakukan kunjungan khusus ke Indonesia untuk mendalami ajaran Setia Hati (SH), tidak semata sebagai seni bela diri, melainkan sebagai warisan nilai-nilai persaudaraan dan identitas budaya bangsa Indonesia.
Kunjungan tersebut berlangsung pada Jumat, 16 Januari 2026, di Sekretariat PSHT Ranting Barat, Magetan, dengan didampingi perwakilan Kementerian Kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat. Kedatangan Christian disambut hangat dan penuh antusias oleh keluarga besar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PSHT Pengprov Jawa Timur, Kangmas Mohamat Dwi Suntoro, yang didampingi Ketua PSHT Ranting Barat, Mas Gatot Priambodo, beserta jajaran pengurus dan warga PSHT setempat.
Dalam sambutannya, Kangmas Dwi Suntoro menyampaikan apresiasi atas kedatangan Christian yang dinilai sebagai bentuk nyata pengakuan internasional terhadap nilai luhur pencak silat Setia Hati.
Ia menegaskan bahwa Setia Hati tidak hanya mengajarkan teknik bela diri, tetapi juga membangun karakter, persaudaraan, dan budi pekerti yang menjadi fondasi kebudayaan bangsa.
Christian merupakan praktisi pencak silat dari organisasi Setia Hati Anoman, sebuah rumpun Setia Hati yang berakar dari SH Bandung. Nama “Anoman”, yang berasal dari kata Anom bermakna muda, merepresentasikan semangat regenerasi dan keberlanjutan ajaran Setia Hati yang tetap hidup meski melewati fase sejarah yang berat, termasuk masa kolonial Pemerintahan Hindia Belanda dan Perang Dunia II.
Secara historis, SH Anoman dihidupkan kembali oleh Verdi Phefercorn von Offenbach murid dari RM.Soemanto (Pendiri SH Anoman di Bandung), ketika SH Bandung terputus hubungan dari pusat ajaran di Madiun akibat pendudukan Jepang. Dalam situasi tersebut, para pengikut yang tersisa tetap menjaga ajaran Setia Hati menghidupkan kembali di wilayah Eropa.
Kunjungan Christian ke Indonesia merupakan amanat langsung dari gurunya di Belanda untuk kembali menelusuri akar autentik ajaran Setia Hati di tanah kelahirannya. Ia ingin memahami secara langsung nilai persaudaraan, filosofi hidup, serta praktik pencak silat SH dalam konteks budaya Indonesia, yang menurutnya tidak dapat sepenuhnya dipelajari di Eropa.
Dalam rangka napak tilas tersebut, Christian telah mengunjungi berbagai daerah dan gaya Setia Hati. Di Sumedang, ia mempelajari teknik permainan Sumedangan yang merupakan akar dari Jurus Sumedangan Setia Hati. Ia juga bersilaturahmi ke Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) gaya Harjo Utomo, serta mendalami ajaran di PRSH (Persaudaraan Rumpun Setia Hati) gaya Harjo Utomo PSC di Baturetno, Wonogiri. Di wilayah tersebut, Christian turut mempelajari panahan tradisional jamparingan sebagai bagian dari ekosistem budaya Nusantara.
Sebagai bagian dari perjalanan spiritual dan historis, Christian juga merencanakan ziarah ke makam Ki Ngabehi Surodiwiryo di Desa Winongo Madiun, tokoh sentral dalam sejarah Setia Hati, sebagai bentuk penghormatan terhadap sumber nilai dan ajaran yang ia tekuni.
Christian mengungkapkan rasa syukurnya selama berada di Indonesia. Ia mengaku tidak diperlakukan sebagai wisatawan, melainkan sebagai saudara, sesuai prinsip persaudaraan universal Setia Hati. Pengalaman tersebut semakin meneguhkan keyakinannya bahwa pencak silat bukan sekadar bela diri, melainkan medium pembentukan karakter dan jembatan kemanusiaan lintas bangsa.
Pendamping perjalanan Christian, Agus Mulyana Pamong Budaya dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX di bawah naungan Kementerian Kebudayaan, menyebut kunjungan ini sebagai bentuk nyata diplomasi budaya akar rumput.
Melalui pencak silat, Indonesia tidak hanya memperkenalkan warisan budayanya, tetapi juga menanamkan nilai persaudaraan global yang relevan di tengah tantangan dunia modern.
Kunjungan ini menegaskan bahwa pencak silat Setia Hati memiliki peran strategis sebagai duta budaya Indonesia, yang mampu mempererat hubungan antarbangsa melalui nilai luhur, tradisi, dan rasa kemanusiaan yang universal.(AS)
Ardy.22













