Duka Insan Pers Surabaya di Hari Pers Nasional, Pemimpin Redaksi Media Cakrawala Berpulang ke Rahmatullah

banner 468x60
Spread the love

Surabaya|metrosoerya.com – Di tengah suasana peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh setiap 9 Februari, kabar duka menyelimuti dunia jurnalistik di Kota Surabaya. Pemimpin Redaksi Media Berita Cakrawala, Bayu Pangarso, berpulang ke Rahmatullah pada Minggu malam, 8 Februari 2026, sekitar pukul 23.00 WIB.

Almarhum menghembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan medis akibat komplikasi penyakit diabetes di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo, Jalan Prof. Dr. Moestopo No. 6–8, Kelurahan Airlangga, Kecamatan Gubeng, Surabaya.

banner 336x280

Setelah dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis, jenazah almarhum dipindahkan dari RSUD Dr. Soetomo pada Senin dini hari (9/2/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. Selanjutnya, jenazah diberangkatkan menuju rumah duka di Desa Kepoh Baru, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur.

Sanjaya, sahabat sekaligus rekan dekat almarhum, menyampaikan bahwa prosesi pemakaman berlangsung dengan khidmat sekitar pukul 09.00 WIB. Pemakaman dihadiri oleh keluarga besar, jajaran redaksi Media Berita Cakrawala, serta sejumlah insan pers dan tokoh jurnalistik dari Surabaya dan sekitarnya.

“Ini merupakan kehilangan yang sangat mendalam bagi kami semua, terlebih karena bertepatan dengan Hari Pers Nasional. Kepergian almarhum menjadi pengingat akan besarnya dedikasi dan kontribusi beliau bagi dunia jurnalistik,” ujar Sanjaya.

Menurut Sanjaya, Bayu Pangarso dikenal sebagai sosok pemimpin redaksi yang menjunjung tinggi integritas, etika jurnalistik, serta nilai pembelajaran berkelanjutan. Almarhum kerap menekankan bahwa jurnalistik adalah profesi yang dinamis dan menuntut setiap insan pers untuk terus belajar serta beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Beliau selalu mengingatkan bahwa tugas jurnalis bukan sekadar menulis, melainkan menyampaikan kebenaran yang diperoleh melalui proses investigasi dan verifikasi yang cermat. Setiap informasi yang disajikan kepada publik harus dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, almarhum menanamkan tiga prinsip utama kepada para wartawan, yakni integritas pribadi, kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik, serta akurasi data dan informasi. Ketiga prinsip tersebut dinilai sebagai fondasi utama dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap media massa.

Selain itu, Bayu Pangarso juga mendorong insan pers untuk aktif berinteraksi dengan berbagai narasumber dari beragam latar belakang sosial dan budaya. Menurutnya, hal tersebut penting untuk memperkaya perspektif, meningkatkan kualitas liputan, serta membangun jejaring profesional.

Dalam menghadapi perkembangan teknologi digital, almarhum dikenal sebagai figur yang visioner. Ia mendorong wartawan untuk menguasai berbagai keterampilan pendukung, seperti fotografi, videografi, serta mobile journalism, guna menunjang kecepatan dan efektivitas kerja di lapangan.

“Beliau sering mengatakan bahwa jurnalis masa kini harus adaptif terhadap teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar jurnalistik,” tambah Sanjaya.

Tak hanya itu, almarhum juga berpesan agar insan pers tidak ragu mengangkat isu-isu penting dan sensitif demi kepentingan publik. Menurutnya, keberanian, kreativitas, serta konsistensi dalam memegang teguh kode etik merupakan kunci dalam menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas dan bernilai bagi masyarakat.

Kepergian Bayu Pangarso meninggalkan duka mendalam bagi dunia jurnalistik, khususnya di Kota Surabaya dan Jawa Timur. Namun demikian, semangat, dedikasi, serta nilai-nilai yang telah ditanamkan almarhum diharapkan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi jurnalis berikutnya dalam menjalankan profesi yang sarat tanggung jawab dan pengabdian.

*) Oleh : @gus

banner 336x280